Mustofa W Hasyim

Saya, sebagai wartawan dan sebagai editor penerbitan selalu senang dan bersemangat kalau mendapat tugas ketemu pak Kuntowijoyo. Wawancara untuk menggali pandangan beliau tentang suatu masalah yang berkembang, menggali pengalaman hidup, atau ‘merayu’ beliau agar berkenan tulisan beliau kami terbitkan.

Tempat bertemu, kalau untuk urusan wawancara, di ruang dosen FIB UGM pada saat jam beliau tidak memberi kuliah. Karena seringnya wawancara, saya hafal betul tempatnya. Saya juga hafal suasana FIB karena cukup banyak dosen FIB yang jadi sasaran wawancara dengan topik berbeda sesuai keahlian dosen tersebut.

Saya melacak keahlian atau semacam spesialisasi para dosen berdasar judul skripsi, tesis dan disertasi yang ditulis. Ini menunjukkan arah minat yang kuat dari dosen itu waktu menempuh studi.

Pak Kuntowijoyo menekuni sejarah sosial. Kehidupan para priyayi di zaman kejayaan Kasunanan Surakarta (zaman Sunan Paku Buwono X) sampai kemudian menulis desertasi tentang Serikat Islam di Madura yang tebal naskahnya setebal bantal dan waktu kami terbitkan jadi buku juga setebal bantal.

Pak Kuntowijoyo selain dosen sejarah, juga dikenal sebagai sastrawan yang karyanya unik dan membuka perspektif baru tentang kehidupan.. Puisinya sangat spiritual, cerpennya sangat sosal dan novelnya sangat antropologis. Kita bisa memasuki dunia spiritual Kuntowijoyo lewat kumpulan puisi Suluk Awang Uwung, Isyarat, Makrifat Daun.

Konstruksi makna dari kata-katanya saya bayangkan seperti konstruksi arsitektur masjid klasik dengan kubah sangat besar dan saya berada di bawah kubah yangi dalamnya penuh lampu dan pada dinding dindingnya terlihat tulisan kaligrafi indah. Saya merasa ditaklukkan, menggigil batin saya dan hanya bisa menyerap suasananya.

Berbeda dengan sastrawan lain yang memulai ‘karir’ sebagai sastrawan dengan menulis puisi, pak Kunto justru memulai dengan menulis cerpen. Cerpen yang dia tulis menunjukkan kalau penulisnya memiliki kecerdasan budaya dan kecerdasan sosial, bahkan kecerdasan spiritual Artinya mampu menangkap makna, nilai yang bersifat substansial dari peristiwa budaya dan peristiwa yang muncul dalam pergaulan sosial.

Kemudian dia mengkonstruksi peristiwa itu menjadi realitas alternatif yang penuh makna spiritual. Cerpen-cerpennya memang berbicara tentang itu. Oleh karena itu ketika pak Kunto berbicara tentang sastra transendental, beliau memberi tentang secara pribadi ketika saya bertamu ke rumahnya, saya tidak bingung-bingung amat.

Apalagi ketika dari sastra transendental Pak Kunto mengembangkan dan menyempurnakan menjadi sastra profetik dengan tiga arah proses yaitu humanisasi (amar makruf), liberasi (nahi mungkar), transendental isasu (tu’minu billah) dan ini Muhammadiyah banget .

Dalam sastra profetik fungsionalisasi nilai-nilai agama dianyam dalam bentuk ekspresi sastra (ekspresi kebahasaan) yang benar, yang baik dan yang indah. Dan karya dia mendapat penghargaan di mana-mana karena kuatnya.

Karya cerpen, novel, puisi dan naskah drama sudah menunjukkan ini, bahkan sebelum pak Kunto mendeklarasikan konsep sastra profetik, yang kemudian meluas merambah ilmu sosial profetik.

Di luar proses pencarian konseptual atau kredo sastra yang dia umumkan itu saya berguru kepada pak Kunto pada kesungguhan dalam menulis. Pertama, Pak Kuntowijoyo sangat menguasai bahan tulisan, yang sebagian besar berupa hasil riset sosial yang dia lakukan. Misalnya dalam novel Pasar yang bahannya merupakan hasil riset di sebuah pasar tradisional di Gemolong Sragen.

Jadi, Pak Kuntowijoyo tidak pernah mendasarkan karyanya berbahan imajinasi belaka. Imajinasi bagi pak Kuntowijoyo hanya alat untuk merekatkan atau menganyam peristiwa menjadi plot yang menarik sambil kemudian memoles menjadi pintu-pintu makna yang kemudian bebas dibuka oleh pembaca.

Kedua, pak Kuntowijoyo selalu fokus kalau mengerjakan sesuatu. Konsentrasi kuat dan tidak bisa diganggu atau diintervensi oleh siapapun. Sahabat Pak Kuntowijoyo bernama Darmanto Yatman (penyair multi bahasa) pernah cerita kepada saya. Ketika Darmanto datang, pak Kuntowijoyo sedang menulis. Darmanto diminta menunggu. Saat menunggu, Darmanto menyaksikan peristiwa ‘ajaib’.

Ketika sedang mengetik, tiba-tiba Mbak Sus, isteri Pak Kuntowijoyo menyela dan meminta Pak Kunto memandikan anaknya. Waktu itu pak Kunto masih bertempat tinggal di dekat stasiun Lempuyangan. Dengan tenang, pak Kunto memandikan anaknya, kemudian melanjutkan mengetik dengan konsentrasi dan intensitas semangat yang sama. Seolah-olah tidak terjadi sesuatu .

Ketiga, Pak Kuntowijoyo memiliki kepiawaian untuk membuat relasi-relasi peristiwa yang tak terbayangkan oleh pembaca. Rumit, rasional, menggugah. Keempat, sesuatu yang membuatnya mudah menyerap banyak hal dalam hidup adalah pak Kuntowijoyo selalu menghargai orang lain, terbuka, jernih, suaranya lembut, murah senyum dan saya merasa kerasan kalau berlama lama wawancara di ruang dosen atau ngobrol di rumahnya. Hanya kesadaran bahwa beliau punya kewajiban dan kesibukan personal yang menyebabkan saya membatasi waktu.

Yang paling mengesankan, pak Kuntowijoyo tidak membedakan orang yang mengundang untuk menghadiri acara sastra dan menyempatkan hadir. Saya ingat, waktu Keluarga Insani (Komunitas Sastra kecil yang menginduk pada harian Masa Kini) mengundang pak Kuntowijoyo pada sebuah acara di Senisono, pak Kunto beserta mbak Sus (Bu Kunto) mau datang, duduk santai di belakang. Ketika kami minta untuk maju, hanya tersenyum.

Sumber: suaramuhammadiyah.id