Fakultas Agama Islam UM Bandung, Siapkan SDM untuk Menjawab Tantangan Industri 4.0

 

Pandemi itu seakan boyongan ‘rumah pindah’ dari kantor ke rumah. Ceramah keagamaan pindah ke flatform zoom. seminar dan diskusi agama tidak pula dilakukan di masjid. tetapi berpindah ke ruang virtual. Tentu saja ketika pindah banyak hal yang tidak bisa kita bawa, antara lain: para kyai.

Maka ada pergeseran dari kyai atau ulama tradisional pindah ke ustad millenial. Dalam pandangan tradisional, ulama itu ilmunya mumpuni. Dalam tradisional kegiatan bersifat tatap muka lengkap. dalam tradisional perilaku atau akhlak beliau itu menjadi teladan dan inspirasi.

Berbeda kita sekarang, tiba-tiba ada ustad-ustad yang tidak ketahuan sanadnya. Kalau ustad asal-usulnya kelihatan jelas, sanadnya jelas, maka itu tidak meragukan.Kalau sanadnya tidak jelas, bagaimana hidupnya sehari-hari, siapa sesungguhnya? Tidak jelas. Kondisi demikian kalau dalam ilmu hadits, kalau tidak ada sanadnya dikatakan dhaif atau ditolak.

Sekarang kita mendapatkan informasi yang tidak jelas sumbernya. Informasi tidak disajikan dalam media cetak. Sekarang buku-buku kita “tidak ada” lagi (dalam bentuk cetak berkurang jauh, mengalami penurunan).

Suratkabar yang biasa tebal, kini hanya tinggal 12 halaman saja. Penerbit itu sudah kalap semua, karena sudah disajikan semua di internet. Kalau tidak menggunakan media internet digunakan sebagai pembelajaran, maka bisa FAI (Fakultas Agama Islam) menjadi tertinggal.

Maka tantangan ini menjadi masa depan yang semakin berat. Demikian pemaparan Dekan FAI UM Bandung, Prof.Dr.Afif Muhammad, MA. dalam acara Kuliah Umum yang berlangsung di Aula Kampus UM Bandung Jalan Soekarno-Hatta No.752 Bandung, Sabtu (23/10).

Sementara itu Rektor UM Bandung, Prof.Dr.Ir.Herry Suhardiyanto,M.Sc.,IPU., membenarkan bahwa kelahiran kampus UM Bandung tidak lepas dari peran rintisan awal STAIM (Sekolah Tinggi Agama Islam Muhammadiyah) Bandung, kini sebagai Fakultas Agama Islam. Sebagai yang pertama dan tertua jadi pantas memberikan teladan.

Dalam keilmuan FAI sangat strategis baik secara individu, Fakultas atau pun universitas. Maka rumusan “Islamic Technopreneur” akan kita jaga. Dalam hal ini peran para saudagar, selain para kyai, di Muhammadiyah sampai dengan perumusan naskah, itu penting.

Maka jangan biarkan pihak lain, memonopoli. Karena kita (para penerus ulama) adalah pewaris negara kita. Kita pun harus menyiapkan diri dalam menghadapi tantangan zaman. Terlebih di era disrupsi sekarang itu harus disiapkan.

Mari mewujudkan konsep Islamic Technopreneur, tentu saja dengan Islamic Values. Perkembangan sains dan teknologi yang makin terjadi perubahan cepat, sulit diprediksi, kompleks, dan kadang membuat ambigu (sering membuat salah membaca, salah memprediksi).

Dalam hal ini kita membutuhkan skill baru dalam membaca tanda-tanda tantangan tadi. Butuh orientasi baru, adaptasi baru serta mindset komitmen untuk menjadi lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *