Jalan Siang hingga Sore

  • Whatsapp

 

Serasa gak kebayang, kemarin siang-siang bisa menyusuri kembali jalanan Setiabudhi.

Melewati kampus perhotelan elit NHI. Hingga panorama dan kampus UPI. Ya, UPI tempo doeloe adalah kenangan, saat belajar mengembangan budaya menulis.

Isola adalah bagian dari proses belajar menulis dan presentasi. Mahasiswa yang aktip sebagai para penulis muda, karya sastra puisi ataupun lainnya.

Kali ini aku hanya melewati saja. Sekedar mau silaturahim dan bertemu seseorang untuk mengembalikan pinjaman.

Meski gak sempat bertatap wajah. Karena dia keburu ada keperluan dengan kampus nya.
*
Akhirnya kususuri jalanan menurun. Kebawah melewati pusat kota. Pengen rasanya nengok gedung Gramedia tempat dulu langganan baca kalau tidak beli bukunya.

Jalan Merdeka, Gramedia, BIP, Balaikota dan Masjid Ukhuwah adalah kisah.

Lurus terus berbelok menuju pusat kota, alun-alun. Tak lupa menikmati makan siang di seputaran Kebon Kelapa.

Masjid Agung, jadi terbayang bangunan pertama kali saat aku mengenalnya. Masih ada anak tangga dan lorong jalan dibawahnya.

Kemudian di era 2000an, berganti wajah. Bukan saja bangunan masjid. Tapi juga lapangan alun-alun.

Kini tiada pertokoan plaza dan bioskop sebelah timur nya. Yang ada semacam perpustakaan kecil di tepi alun-alun.
Ya, dengan rumput bukan asli, tapi sintetis.

Menara masjid, Bank BRI, dan sekitarnya. Tepian Cikapundung, mengingatkan lapak koran pagi-pagi. Saat aku menikmati bacaan gratis sambil nyeruput kopi atau teh, sambil jalan-jalan pagi.

Koran, majalah, buku-buku bekas di jalan Asia Afrika ataupun Dewi Sartika. Memberi kontribusi hingga aku bisa belajar menulis, tradisi literasi di era itu.

Lebih dari itu alun-alun adalah mencatat sejarah Indonesia menuntut ber Parlemen, lewat Natico (National Congress SI) 1916.

Di jalanan yang kini jadi bagian masjid Agung, ada kantor Biro arsitek Ir. Soekarno dan Ir. Anwari. 

Sebelah selatan ada Kebon Kalapa dikenal Abdul Muis, karena di sini pula beliau sempat tinggal berjuang. 

Di pojok sudut jalan Dewi Sartika, ada jejak tempat praktek pengobatannta kakaknya RA Kartini, yakni RM. Kartono. 

Itulah sekelumit kota Bandung dalam ingatan dan kenangan

Bandung (24/6). 

Pos terkait