Muhammadiyah Perlu Terus Eksis dengan Tidak Lupa pada Akar Sejarahnya

Rangkaian acara pemanasan menjelang Kongres Sejarawan Muhammadiyah hari kedua Ahad (7/11) mengambil tema “Optimalisasi Potensi Lokal Muhammadiyah untuk Mentransfer Memori Kolektif Melalui Pariwisata.”

Seminar yang diikuti dari unsur MPI PP Muhammadiyah, Aisyiyah, dan peserta Sejarawan Muhammadiyah dari sejumlah wilayah itu.

Ghifari Yustriadhi M. Makhasi, S.S.,M.A., menyatakan kegiatan ini baru tahap awal dalam bagian edukasi pentingnya sejarah dan tata kelola wisata. “Ini penting untuk menjadikan Muhammadiyah tetap eksis tanpa lupa pada akarnya (sejarah), termasuk di setiap lokal daerahnya,”tutur Founder Muhammadiyah Heritage Trip ini.

Sementara Widyastuti,S.S.,M.Hum, Wakil Ketua Lembaga Kebudayaan PP Aisyiyah menegaskan pentingnya membuka mindset dikalangan pimpinan Muhammadiyah. Dimana pariwisata dan budaya dengan Muhammadiyah memiliki keterkaitan dalam aspek potensi ladang dakwah sekaligus bernilai memajukan ekonomi. Penguatan Narasi historis dan jaringan struktural yang dimiliki Muhammadiyah merupakan potensi besar untuk memajukan Muhammadiyah. Demikian tutup cicit KH Ahmad Dahlan.

Sedangkan Fahmi Priantoro,S.S.,S.H., M.A., memandang Muhammadiyah punya potensi besar dalam upaya pelestarian aset wisata budaya terkait Heritage. Dimana artefak bangunan Muhammadiyah yang sudah di atas 50 tahun secara aturan sudah bisa masuk kategori Heritage dan itu sudah banyak.

Heritage produk kebudayaan Muhammadiyah itu tentu saja bukan saja ada di Yogyakarta (Kauman). Di seluruh lokal daerah dimana ada Muhammadiyah, yang sudah berusia diatas 1 Abad ini jelas meninggalkan jejak peradaban yang patut dirawat, dilestarikan demi spirit sejarah. Zeit Gest (Semangat Zaman) dari Muhammadiyah pantas dipelihara dan dikembangkan demi kemajuan umat dan bangsa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *