Sajak-Puisi ini merupakan karya Sukron Abdilah yang dicutat dari weblog bincangkata.com atas izin beliau. Mang ukon, begitu ia dipanggil oleh barudak IMM Bandung Timur, adalah orang yang tak mau jemawa dengan ratusan karya berupa buku, artikel, media online, dll.

Seperti mang ukon bilang, bersajak tak harus punya keindahan bahasa; namun yang lebih penting ialah punya kandungan yang menggerakkan batin. Ia tetap berpijak pada tanah kemanusiaan yang selalu menunduk.

Tabik!!!

Begitu juga dalam 2 judul sajak ini.

tempatku di sini

tempatku di sini
lahir dan mati
tak kan kutinggalkan
kendati kekumuhan menghantui

tempatku di sini
berkeluarga dan beranak pinak
menuliskan tinta takdir kehidupan
yang berjibun ketidakpastian

gerangan kuhampiri wajah jijikmu
kusemburkan ludah bau
dan kulepaskan kepalan tinju
karena aku hanya akan terus menetap
hidup di sini dan mati pun aku mau di sini

di kampung tempatku berdendang teduh
yang pancari hidup dengan cahaya ke seluruh tubuh yang ringkih
seringkih tiang dari bambu kuning!

2007

Pesan dari Kampung

aku mulai membosani tingkah polah
yang datang bertubi dari ketakmanusiawian diri
kepulan asap dari dapur, hanya kepulan kesedihan
pembunuh kepercayaan

kata-katamu hanya disimpan di bawah bantal
yang tebarkan harum pesona
wajahmu jernih tak sejernih hati
hingga aku menolak buncahkan kata
yang berjibun kekaguman

kau tersenyum,
aku ketus tersenyum dalam hati
kau melambaikan tangan,
aku kepalkan tangan kebencian dibelakangmu
kau sorotkan pandang kebahagiaan,
aku tersedu-sedu seminggu setelah kunjunganmu itu berlalu
pesanku ternyata tak kau baca!

2007