Kau, Aku dan Buku: Pertautan Buku dan Cinta

  • Whatsapp

Buku dilafalkan dalam lisan orang Indonesia (Melayu). Mungkin dari kata Book dalam bahasa Belanda. atau Inggris. Karena dalam istilah Arab disebutnya Daftarun, atau Kitab (kitabun).

Budaya cetak dengan kertas konon yang ditemukan bangsa Tiongkok (Cina) ribuan tahun lalu telah mempengaruhi dunia percetakan Modern. Penemuan Gutenberg terkait alat percetakan  telah mengubah peta dunia ilmu. Sebelumnya budaya baca tulis atau literasi menggunakan media kulit kayu, kulit binatang dan lainnya.

Dunia perbukuan berkembang dibantu dengan perkembangan teknik menulis pada kertas. Karennya pada abad pertengahan produk buku-buku atau kitab yang menjadi khazanah kemajuan dunia Islam bermunculan. Baitul Hikmah di Persia (Bagdad) menandai zaman keemasan umat Islam era dinasti Abbasiyah.

Begitulah buku menjadi pintu atau jendela kemajuan manusia. Ilmu pengetahuan menjadi berkembang karena bacaan (literasi). Buku pun menjadi identitas intelektual.

Di era modern, buku menjadi sahabat kalangan intelektual pejuang. Hatta identik dunia buku. Konon sewaktu pindahan dari Jakarta ke Yogyakarta saat revolusi perjuangan, Muhammad Hatta sampai membawa buku-bukunya menggunakan gerobak dan becak.

Selanjutnya selain membaca, Hatta pun kemudian menulis di berbagai surat kabar (media cetak) di zamannya. Selain menghasil buah pikir dalam wujud buku. Aa yang bertema Sekitar Proklamasi, ada pula terkait khazanah Filsafat Yunani.

Pun Soekarno lekat dengan dunia membaca dan menulis. Ia membaca buku-buku yang menjadi koleksi gurunya: Cokroaminoto. ia pun meminta dikirim buku-buku saat dalam pengasingan di Ende (Flores). Bung Karno pun tetap membaca buku-buku atau bacaan lain yang disembunyikan oleh isterinya, Inggit Garnasih di bawah rantangan makanan saat bezuk di penjara.

Bung Karno pun menuangkan ide pikiran gagasan untuk kemajuan umat Islam supaya progres, serta untuk kemajuan alam pikir anak bangsa lewat tulisan-tulisan di media cetak serta buku. Salahsatunya dikenal “Makin lama makin Cinta” terkait Muhammadiyah. Serta buku “DBR” (Di Bawah Bendera Revolusi).

Tokoh-tokoh lainnya, seperti Buya Hamka menjadi besar karena rajin membaca, menelaah buku-buku atau bacaan lainnya berupak kitab klasik (Turats) karya ulama dulu. Wal hasil meski otodidak, Hamka tampil kemudian menjadi intelektual, ulama yang brilian dari negeri ini.

Begitupun Hamka, sekitar 114 karyanya dalam wujud buku. Ada berupa buku Sejarah Umat Islam dari era Klasik hingga modern. Termasuk karya monumentalnya,” Tafsir Al-Azhar” lengkap 30 juz.

Satu lagi yang menekuni dunia literasi, baca dan tulis atau perbukuan adalah sastrawan langkah, PAT (Pramoedya Ananta Toer). Buku-bukunya bernuansa sejarah sosial dan sastra cukup banyak. Salahsatu-nya Tetralogi: Bumi Manusia,  Rumah Kaca..., juga Jalan Raya Pos dll.

Kereenlah para tokoh masa lalu itu, Hidupnya memiliki sumber referensi yang jelas. Kalangan pemuka agama alim ulama atau kyai pun banyak yang menghasilkan karya tulis baik kitab atau buku. Hadratus Syaikh, Hasyim ‘Asyari, kakeknya Gus Dur. Termasuk kyai yang rajin menuangkan pemikiran dalam wujud buku.

Wajarlah bila karakter kecintaannya pada khazanah ilmu, duni abaca tulis (literasi) mengalir pula kepada keturunanya. Salahsatunya Gus Dur.

Bagaimana dengan Kita?

Buku apakah menjadi sahabat kau? Saya, (penulis) termasuk beruntung pernah memiliki orang-orang¬† terdekat dalam hidup yang suka dengan bacaan dan tulisan. ya, kau suka bacaan buku motivasi dan psikologi. Pula suka dengan karya tulis seperti majalah “kampus”.

Saya pun berhutang budi kepada guru terdekatku. Seorang guru yang memiliki perpustaakaan pribadi. Yang sering kuacak-acak, ku baca sampai berantakan saking kecapeannya. Bukan sekedar majalah Suara Muhammadiyah yang sudah saya lahap sejak usia belasan, saat usia SMP. Majalah dan surat kabar berbahasa Indonesia atau pun Sunda dilahap pula.

Begitu pun buku-buku bacaan anak-anak seperi majalah si Kuncung, majalah Bobo dan lainnya. Hingga buku-buku pelajaran anak tingkat SMP dan SMA, sudah kuhabisin dibaca saat masih remaja. Bahkan buku bacaan orang dewasa pun, sudah dibaca. Meskipun saat itu pusing juga, karena ada sejumlah diksi yang belum dimengerti.

Terimakasih abangku, guru ku,.Kalianlah yang membuatku melek aksara. Mengajari a.b. c de..Mengajari pula bacaan alif ba ta tsa..dst. Hingga bukan saja meng-eja bacaan Arab dan surat-surat Al-Qur’an. termasuk mengajari bagaimana membaca dengan benar seperti tajwij atau makharijul-huruf nya.

Itulah modal dasar, saya bisa menulis satu dua paragraf karangan. Meski otodidak kemudian aku bisa membuktikan padamu, kalau bisa menulis dan dipublish di majalah ternama, Suara Muhammadiyah. Majalah tertua dan terawet lebih dari satu abad usianya.

Dari otodidak menulis ini memotivasi terus dunia literasi. Baca dan menulis. Bahkan “memaksa” diri untuk mencari perpustakaan di kota Paris van Java. Baik Perpustakaan Kota, Perpustakaan Musium Asia Afrika, di jalan Asia-Afrika simpang Braga. atau pun perpustakaan Jawa Barat, Soekarno-Hatta sebrang kampus Uninus.

Mengantarkan saya, belajar menulis dalam Training Menulis yang diadakan teman-teman di kampus Isola. Ya para pegiat literasi di Isola Pos. Terima kasih teman-teman seperti teh Helvi, juga kang Herwan sang Penyair, juga mas Titis pegiat bahasa dan sastra Indonesia.

Tumpukan Koran, Majalah, dan Buku: untuk Apa?

Tak aneh. Seterusnya membeli surat kabar nasional atau lokal jadi kebiasaan. Kalau lagi tidak punya duit. Numpang bacaa koran di emperan “Cikapundung” saat pagi hari. Area lapak jualan majalah, koran, dan buku bekas di jalan Dewi Sartika adalah teman lama.

Perpustakaan lainnya seperti Perpustakaan Prof. Ajip Rosidi di kota Bandung adalah tempat yang suka kusinggahi, saat senggang dulu. Di sana kutemukan bacaan buku yang tidak ada di tempat lain. Ada buku-buku berbahasa Inggris dan Belanda, selain berbahasa Indinesia dan Sunda cukup melengkapi khazanah keilmuan khususnya tema Sejarah, Sastra dan Budaya. termasuk buku-buku keislaman relatip banyak juga.

Kliping an koran menjadi kebiasaan lama. Karena cukup untuk mengawetkan bacaan. Kalau tidak sempat difotocopy. Kesininya mungkin bisa discan atau kemudian di PDF-kan.

Buku (sebagai Mahar): Adakah?

Yang menarik dan unik. Bagiku kalau ada orang yang menghubungkan produk literasi seperti buku dengan cinta. Adakah yang seperti ini? Unik dan menarik jika ada orang yang melamar atau bahkan menikahi kekasih pujaannya dengan sebuah buku atau sejumlah buku. Bukan lagi sekedar kado ulang tahun dan momen indah lainnya.

Kalau mahar lamaran atau nikahan dengan kunci mobil, kunci rumah mewah atau pun emas permata itu biasa. Dan tentunya memmbanggakan, alias kereen, Karena simbol kesejahteraan.

lalu bagaimana dengan mahar dengan karya produk literasi? Sepertinya tidak keren ya. Rupanya tidak membanggakan. Karena apalah nilainya buku jika dijadikan sesuatu yang spesial. Paling tinggi harga buku paling jutaan rupiah. Wah kalau ukuranya cuan (duit), gak kerenlah,

Tapi, andaikan berpikirnya nilai produk buku. Apalagi bukunya itu bernilai manfaat sekali atau langka, seperti bisa jadi pertimbangan. Hanya mungkin bukan karena muatan isinya. Tapi lebih karena nilai kelangkaannya saja.

Nah, bagi para pecinta literasi, Adakah yang berminat seperti itu. Menjadika Kau, Aku dan Buku sebagai jembatan menambatkan rasa cinta kasih diantara dua insan yang lagi kasmaran?

**

Semoga gerakan literasi. Kecintaan baca tulis tetap hidup. Karena spirit Al-Qur’an pun sejak awal turun wahyu kepada Nabi saw adalah perintah literasi. “Bacalah”..”Risetlah”! Namun sadarkah kita, bahwa dengan literasi dengan bacaan tulisan dan riset, itulah yang mengantarkan manusia pada kemajuan budaya dan peradaban.

Tradisi literasi di era Dinasti Abbasiyah (Bagdad) adalah contoh konkritnya.

Semoga generasi masa kini–millenial–tetap menguatkan tradisi literasi,. Meski medianya bisa jadi tidak lagi cetak (Gutenberg-ian) tetapi medi digital. Tapi essensinya tetap mau baca dan menulis. Mau berkarya. Insyallah generasi emas bangsa ini bisa disambut dengan gembira andaikan disiapkan dengan karakter generasi yang kuat literasinya.

Wallahu’alam bishawab.

Selamat hari buku Dunia: World Book Day!

Author: Pecinta Buku, Penikmat Literasi, Penulis Buku dan Artikel

 

 

 

Pos terkait